PENGARUH KEMITRAAN TERHADAP  KEUNTUNGAN USAHA PENGGEMUKAN DOMBA DI KABUPATEN BOGOR

PENGARUH KEMITRAAN TERHADAP KEUNTUNGAN USAHA PENGGEMUKAN DOMBA DI KABUPATEN BOGOR

Desa Bojong Jengkol merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor dimana penduduknya banyak mengusahakan penggemukan domba jantan. Namun untuk mengembangkan usahanya, para peternak memiliki permasalahan seperti permodalan, manajemen, dan pemasaran. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu melalui kemitraan dengan CV. Mitra Tani Farm.

Namun tidak semua peternak domba melakukan kemitraan dengan CV. Mitra Tani Farm.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pelaksanaan kemitraan dan mendeskripsikan keragaan usaha ternak menggunakan analisis deskriptif. Selain itu untuk mengukur tingkat keuntungan usaha penggemukan domba jantan antara peternak mitra dengan peternak nonmitra.

Hasil perhitungan keuntungan atas biaya tunai per SDD (Setara Domba Dewasa) per periode yang paling besar diperoleh peternak nonmitra. Sementara itu perhitungan keuntungan atas biaya total per SDD per periode menghasilkan nilai negatif untuk semua kelompok sehingga usaha ternak domba merugikan. Namun jika dibandingkan nilai keuntungan atas biaya total, maka usaha pada peternak mitra yang lebih baik dibandingkan skala lainnya karena kerugian yang diperoleh paling kecil.

 

Kata Kunci: analisis keuntungan, kemitraan, penggemukan domba.

 

Sumber : https://media.neliti.com/media/publications/40179-ID-pengaruh-kemitraan-terhadap-keuntungan-usaha-penggemukan-domba-di-kabupaten-bogo.pdf

MODEL PEMBIBITAN KAMBING DAN DOMBA DI INDONESIA

MODEL PEMBIBITAN KAMBING DAN DOMBA DI INDONESIA

Ternak ruminansia kecil yang dominan di Indonesia adalah kambing dan domba dengan populasi mencapai 27,755 juta ekor (kambing 16,841 juta ekor dan domba 10,914 juta ekor). Para peternak kecil sangat akrab dengan kedua ternak tersebut dan adanya kepercayaan masyarakat bahwa daging kambing dapat meningkatkan stamina laki-laki. Akhir-akhir ini penggemukan kambing dan domba mulai marak tumbuh yang dipicu oleh preferensi masyarakat pada sate dan gule yang lembut (berasal dari ternak muda).

Meningkatnya permintaan pada ternak tersebut menuntut pembinaan di hilir dengan harapan agar supply ternak usia muda tetap tersedia sepanjang tahun. Untuk merespon kondisi tersebut perlu dibangun model pembibitan kambing dan domba baik di peternakan rakyat maupun peternak komersial. Sistem pemuliabiakan yang dipraktekkan oleh petani saat ini masih sangat tradisional. Pada umumnya petani belum memiliki pejantan yang khusus untuk dijadikan sebagai pemacek sehingga perkawinan terjadi secara alami tanpa terkontrol.

Dengan demikian peluang kemungkinan terjadinya derajat inbreeding yang tinggi cukup besar. Pembibitan yang disarankan perlu menetapkan tujuan akhir breeding yang akan dicapai yaitu pertumbuhan cepat pada umur muda, memperhatikan kapasitas tampung kawasan, perbaikan pakan dan manajemen, pemanfaatan pejantan terseleksi secara bertahap untuk peningkatan produktivitas individu dan peluang pengembangan pasar ternak bibit maupun ternak bakalan usia muda. Konsep pembibitan inilah yang akan didiskusikan dalam makalah ini.

 

Sumber :

https://lolitkambing.litbang.pertanian.go.id/ind/fulltext/kambing/prork11-7.pdf?secure=1