TRANSPORTASI TERNAK DOMBA EKOR GEMUK JANTAN YANG TIDAK DIBERI PAKAN SELAMA PERJALANAN

TRANSPORTASI TERNAK DOMBA EKOR GEMUK JANTAN YANG TIDAK DIBERI PAKAN SELAMA PERJALANAN

Sentra konsumsi daging domba di Indonesia masih berpusat didaerah perkotaan sehingga dibutuhkan aktifitas transportasi untuk mendistribusikan ternak tersebut kedaerah konsumsi. Pengiriman domba antar daerah dapat mengakibatkan stress dan penurunan berat badannya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji penyusutan bobot badan, perubahan respon fisiologi, analisis biaya transportasi dan kerugian penyusutan bobot badan ternak domba ekor gemuk jantan yang tidak diberi pakan selama perjalanan

Kata kunci: domba ekor gemuk, penyusutan bobot badan, respon fisiologi, transportasi

 

Sumber : https://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/79644/D15sip.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Mahasiswa Fakultas Peternakan Harus Punya Ternak

Mahasiswa Fakultas Peternakan Harus Punya Ternak

Permasalahan peternak Indonesia adalah kualitas produk peternakan masih fluktuatif.

REPUBLIKA.CO.ID, B0GOR — Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan Workshop Peternakan dan Lomba Business Model Canvas (BMC), Sabtu (28/4).  Bertempat di Auditorium Janes Humuntal Hutasoit (JHH), Fakultas Peternakan (Fapet) IPB,  Dramaga, Bogor, seminar ini mengangkat tema “Meningkatkan Pengetahuan tentang Prospek Peternakan kepada Masyarakat Umum khususnya Pra Pensiun dengan Basis Agribisnis Peternakan.

Acara ini dihadiri sekitar 120 orang dari berbagai kalangan,  antara lain  mahasiswa IPB, mahasiswa dan masyarakat umum.

Seminar ini membahas prospek, peluang serta praktik bisnis peternakan di lapangan. Para pakar dan praktisi di bidang peternakan yang hadir menjadi narasumber adalah Dr Sri Rahayu (dosen Fapet IPB), Budi Susilo Setiawan (pemilik MT Farm), Subarkah dan Ahmad Anwari (peternak jangkrik Bekasi).

Peternak sukses yang merupakan alumni IPB, Budi Susilo Setiawan dalam paparannya mengatakan,  permasalahan yang dihadapi peternak Indonesia adalah  kualitas produk peternakan yang masih fluktuatif. Intinya, dalam bisnis itu pengusaha harus baik dalam setiap urusan.

Budi merasakan banyak keberkahan dalam usahanya di dunia peternakan. Dari beternak, alumni Fapet IPB ini bahkan sekarang mempunyai usaha catering, properti dan agrowisata.

“Apapun usaha yang kita akan lakukan, cukup berpegang pada empat hal yaitu yakin bahwa usaha ini adalah hal baik, berusaha optimal, perbanyak ilmu dan sabar. Jangan sampai anak peternakan tidak punya ternak atau tidak bisa jualan ternak. Bisnis itu bicara realistis bukan idealis. Ketika karkas impor yang lebih murah hadir menjadi ancaman bagi peternak, kita harus bergerak cepat,“ ujar Budi dalam rilis IPB yang diterima Republika.co.id, Rabu (2/5).

Dr  Sri Rahayu menjelaskan tentang perkembangan dunia peternakan Kambing Domba (Kado) di Indonesia. Mulai dari prospek ternak, populasi Kado, keunggulan ternak Kado, membantah stigma negatif mengenai daging Kado yang tinggi kolesterol serta membandingkan sistem pemeliharaan Kado di Indonesia dan di negara lain (Australia dan New Zealand).

Mahasiswa IPB harus punya peternakan.

 

Selain kambing dan domba, peserta juga mendapatkan ilmu mengenai bisnis dan usaha jangkrik. Bisnis jangkrik ini masih awam di kalangan masyarakat. Padahal prospek jangkrik sangat prospektif merujuk pada permintaan pasar yang tinggi, tidak membutuhkan investasi yang besar dalam memulai usaha serta dapat dilakukan di tempat yang sempit.

Proses panen yang memakan waktu singkat (hanya sekitar 22 hari) ini menjadikan usaha ternak jangkrik sangat potensial untuk dikembangkan.

“Kita harus memiliki pengetahuan dalam beternak jangkrik, paham pasar jangkrik seperti apa, membuat kandang yang sesuai, manajemen pakan yang baik dan melakukan kontrol rutin. Resiko terbesar usaha ternak jangkrik terletak pada serangan predator karena dapat mengurangi jumlah jangkrik yang dapat dipanen ataupun dalam proses peneluran bibit jangkrik. Namun, dengan perlakuan yang tepat hal ini dapat diantisipasi,” sebut Anwari dan diamini oleh Subarkah.

Pada kesempatan ini, diumumkan Juara I untuk kompetisi Business Model Canvas (BMC) diraih oleh mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman (PTN) IPB.  Tim yang terdiri dari Natassa Kusumawardani, M. Gagah Saptarengga, Rima Wulansari dan Melinda Agustina ini melahirkan produk “criquet cakes”, cake lezat berbahan dasar tepung jangkrik.

 

Sumber : republika.co.id

 

Wirausaha Muda IPB – Budi Susilo Membangun Usaha Peternakan CV. Mitra Tani Farm

Wirausaha Muda IPB – Budi Susilo Membangun Usaha Peternakan CV. Mitra Tani Farm

Para pendiri CV. Mitra Tani Farm yang kesemuanya adalah lulusan Institut Pertanian Bogor juga termasuk dalam Wirausaha Muda IPB.

CV. Mitra Tani Farm
Jl. Baru Manunggal 51 No. 39 Rt 04/05 Tegalwaru , Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16620
085 773 222 212 (Telp./SMS)
089660335008 (WA)

Online Media :
http://mitratanifarm.co.id
https://www.instagram.com/mitratanifarm
https://www.facebook.com/mitratanifarm

Budi Susilo, Pengusaha Sukses Mitra Tani Farm – Bincang Bintang GreenTV IPB

Budi Susilo, Pengusaha Sukses Mitra Tani Farm – Bincang Bintang GreenTV IPB

Budi Susilo merupakan salah satu alumni Fakultas Peternakan IPB yang sukses menjadi seorang peternak. MT Farm yang merupakan usaha peternakan terpadu tidak hanya bergerak dalam penggemukan hewan ternak seperti domba, kambing dan sapi tetapi juga berkembang dengan berbagai inovasi hasil peternakan yang dapat membantu masyarkat sekitar peternakan untuk lebih berdaya seperti dengan mengembangkan produk pangan olahan dan produk olahan selain pangan.

CV. Mitra Tani Farm
Jl. Baru Manunggal 51 No. 39 Rt 04/05 Tegalwaru , Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16620
085 773 222 212 (Telp./SMS)
089660335008 (WA)

Online Media :
www.mitratanifarm.co.id
https://www.instagram.com/mitratanifarm
https://www.facebook.com/mitratanifarm

Analisis Tingkat Kelayakan Finansial Penggemukan Kambing dan Domba pada Mitra Tani Farm, di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor

Analisis Tingkat Kelayakan Finansial Penggemukan Kambing dan Domba pada Mitra Tani Farm, di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor

Komoditas utama subsektor perternakan yang mempunyai peran strategis dalam usaha peternakan Indonesia adalah kambing dan domba. Kambing dan domba berkembangbiak dengan baik pada berbagai kondisi dan wilayah di Indonesia, setidaknya menyebar di 11 provinsi di seluruh Indonesia. Luasnya penyebaran populasi tersebut membuktikan bahwa berbagai wilayah di Indonesia memiliki tingkat kecocokan yang baik untuk pengembangan komoditas kambing dan domba, baik berupa kecocokan dari segi vegetasi, topografi, klimat, atau bahkan dari sisi sosial-budaya daerah setempat. Jawa Barat sebagai salah satu wilayah terbaik untuk pengembangan ternak kambing dan domba memiliki jumlah populasi masing-masing sebesar 8.32 dan 47.01 persen dari populasi nasional. Khusus untuk ternak domba, Jawa Barat merupakan wilayah sentra ternak yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap populasi nasional. Peningkatan populasi ternak kambing dan domba di Jawa Barat relatif baik setiap tahunnya, yaitu dengan rata-rata per tahun masingmasing sebesar 9.50 dan 8.80 persen. Namun sistem usaha peternakan kambing dan domba di Indonesia khususnya di Bogor secara umum masih bersifat sambilan dari sistem usaha pertanian tanaman pangan yang hampir seluruhnya merupakan peternakan rakyat. Sistem ini ditandai dengan biaya produksi yang relatif rendah, kurang berorientasi ekonomi karena hanya merupakan tabungan dan penambal resiko kegagalan cabang usaha tani lainnya, serta bentuk usaha yang bersifat pembibitan dan penggemukan. Lain halnya dengan MT Farm, adalah salah satu peternakan kambing dan domba yang ada di Bogor yang berorientasi bisnis dikelola secara intensif dengan manajemen peternakan yang tepat. Kandang yang dimiliki bersifat permanen yang berbentuk panggung seluas ± 700 m2 dengan daya tampung 750 ekor. Untuk fasilitas pendukung kegiatan administrasi dan sebagainya, peternakan ini memiliki kantor lengkap dengan peralatan serta sarana dan prasarana pendukung lainnya. Peternakan ini juga dilengkapi kebun rumput seluas ± 1 Ha. Keberadaan MT Farm sebagai peternakan yang berorientasi bisnis yang dikelola dengan baik dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, tentunya tidak muncul dengan sendirinya. Semua itu membutuhkan modal yang besar. Untuk itu, usaha penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh MT Farm harus layak, baik dari aspek finansial maupun aspek non finansialnya. Sejauh ini perusahaan belum mengetahui secara pasti seberapa besar manfaat (benefit) yang diperoleh perusahaan. Meskipun usaha ini telah berjalan selama 4 tahun, apakah berarti usaha yang dijalankan MT Farm ini telah layak secara finansial?. Untuk itu, maka melalui penelitian ini mencoba untuk menganalisis tingkat kelayakan finansial dan non finansial dari penggemukan kambing dan domba yang dikelola oleh peternakan MT Farm tersebut. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk: menganalisis kelayakan aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum; menganalisis tingkat kelayakan finansial; dan menganalisis sensitivitas melalui switching value analisys usaha penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm terhadap kenaikan harga input dan penurunan kuantitas penjualan output. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif berupa analisis deskriptif yang dilakukan untuk mendefinisikan mengenai gambaran sistem usaha dan aspek non finansial (aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum) dari usaha penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm, sedangkan analisis data secara kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan finansial usaha penggemukan kambing dan domba pada peternakan MT Farm tersebut. Metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kelayakan finansial berdasarkan kriteria investasi NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C dan PP yang diolah menggunakan program Microsoft Excel. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak peternakan MT Farm. Data primer itu sendiri mencakup biaya-biaya yang dikeluarkan selama umur usaha baik biaya investasi maupun biaya operasional, serta penerimaan selama usaha berjalan. Data primer tersebut berupa data historys perusahaan. Data sekunder diperoleh dari studi literatur beberapa skripsi, internet, jurnal dan buku-buku yang berkaitan dengan materi penelitian ini. Selain itu, data yang diperoleh juga berasal dari observasi di lapangan. Aspek non finansial yang dimulai dari aspek pasar bahwa usaha penggemukan kambing dan domba MT Farm memiliki peluang pasar yang baik. Demikian pula aspek teknis, variabel utama faktor pendukung jalannya usaha pada aspek ini menunjukkan adanya keberpihakan yang cukup baik sehingga proses produksi dapat berjalan dengan baik. Kemudian dari aspek manajemen terlihat adanya struktur organisasi dan pembagian tugas yang baik dengan sumberdaya manusia yang berkompeten, yang dapat dipastikan usaha ini berjalan dengan baik. Sehingga dengan demikian, usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm layak secara aspek non finansial. Analisis aspek finansial usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm selama lima tahun dengan tingkat diskonto 8.5 persen diperoleh nilai NPV sebesar Rp 359 346 744, Net B/C dan Gross B/C sebesar 2.53, IRR sebesar 11.7 persen dan PP sebesar 1.5 tahun. Hasil yang diperoleh dari masing-masing kriteria investasi tersebut sesuai dengan nilai indikator yang ditetapkan, sehingga usaha penggemukan kambing dan domba peternakan MT Farm dinilai layak. Melalui switching value analisys menunjukkan bahwa usaha penggemukan kambing dan domba MT Farm dapat mentolerir kenaikan harga input mencapai 5.34 persen dan penurunan kuantitas penjualan output sebesar 4.79 persen.
Collections
Formulasi Strategi Peningkatan Produksi Domba CV Mitra Tani Farm, Ciampea, Bogor

Formulasi Strategi Peningkatan Produksi Domba CV Mitra Tani Farm, Ciampea, Bogor

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk memformulasikan strategi peningkatan produksi domba di CV Mitra Tani Farm (CV MT Farm), Ciampea, Bogor. Pendekatan penelitian yang diterapkan adalah analisis deskriptif yang dilakukan dengan mempelajari permasalahan dari objek yang diteliti. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penelitian dilakukan menggunakan alat analisis berupa pemetaan rantai nilai,  matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan EFE (External Factor Evaluation), SWOT, dan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix).

Hasil analisis rantai nilai diketahui bahwa produksi domba di CV MT farm saat ini sangat tergantung dari pasokan mitra dan petani internal. Hasil IFE dan EFE diperoleh selisih nilai tertimbang masing-masing sebesar 2,120 dan 0,686 maka diperoleh posisi perusahaan dalam matrik SWOT berada pada kuadran I.

Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk menggunakan strategi pertumbuhan. Urutan prioritas strategi berdasarkan QSPM adalah (1) meningkatkan jumlah bakalan, (2) pengembangan manajemen, (3) memperkuat modal dan kepemilikan, (4) meningkatkan kualitas melalui teknologi. Hasil perhitungan gross profit margin diketahui keuntungan yang diperoleh CV MT farm setiap tahunnya jika meningkatkan penjualan domba mencapai 1000 ekor/bulan adalah sebesar 40,34% dari total produksi.

Kata kunci: MT Farm, produksi domba, strategi, SWOT, QSPM, gross profit margin

ABSTRACT

This research was conducted to formulate to increase the sheep production at CV Mitra Tani Farm (CV MT Farm), Ciampea, Bogor. The research was conducted using descriptive analysis by analyzing the problem experienced by CV. MitraTani Farm. Primary data and secondary data were gathered at this research. The research was also conducted using several analytical methods such as value chain mapping, internal factor evaluation (IFE) and external factor evaluation (EFE) matrix, SWOT and quantitative strategic planning matrix (QSPM).

Based on the value chain analysis, the current production of sheep at CV MT farm is highly depending on the supply from its partners and internal farmers. According to the IFE and EFE results, the differences of each weighted values were respectively 2,120 and 0,686 so the position of the company in the SWOT matrix was situated at Quadrant I.

Therefore the company needs to use a growth strategy. The QSPM sequenced the strategy priority as follow (1) increasing the number of lambs, (2) developing the management, (3) strengthening the capital and ownership, (4) improving the quality through technology. The result of the gross profit margin calculation, if the sheep‘s selling is increased up to 1000 sheep per month then the possible annual profit that can be earned by CV MT farm is 40,34% of the total production.

Keywords: MT Farm, sheep production, strategies, SWOT, QSPM, gross profit margin

Full Text:

FULL TEXT (Tekan disini untuk mendownload)

DOI: http://dx.doi.org/10.17358/jma.9.2.77-85

Sumber :

http://journal.ipb.ac.id

http://sinta1.ristekdikti.go.id

https://www.neliti.com